Rabu, 21 November 2012


BERJALAN DENGAN AHLAK MULIA
Setiap nafas yang terhirup, setiap kedipan mata, setiap degupan jantung yang memompakan darah adalah perjalanan, yang harus kita warnai. Warna jalan ini tentunya harus indah dan bermakna. Bermakna sesuai dengan tuntunan agama. Seperti yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. baik saat berjalan dengan manusia ataupun saat ingin dekat dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Tuntunan yang dibawa Rasulullah SAW  ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini dinyatakan sendiri oleh beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabatnya, "Mengapa engkau diutus ke dunia ini ya Rasul?". Rasul menjawab, "Innama buitsu liutamimma makarimal akhlak" "Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah untuk menyempurnakan akhlak".
Menurut Imam Al Ghazali,  akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Pada saat diam, tidak akan tampak bagaimana akhlak seseorang. Akan tetapi bila ditimpa sesuatu yang menyenangkan ataupun sebaliknya, kemudian respon spontannya adalah hal yang baik, berarti dia memiliki ahlak yang mulia Sebaliknya bila sandalnya hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah yang keluar dari mulutnya,  maka respon spontan itu menunjukkan keburukan akhlaknya.
Contoh lain jika seseorang bertemu dengan orang yang meminta sumbangan lalu berfikir keras diberi atau jangan, bila dikasih seribu, malu karena namanyaa ditulis, kalau diberi sepuluh ribu nanti uangnya habis. Terus... berfikir keras, walaupun akhirnya memberi sebetulnya bukan akhlak dermawan yang muncul.
Sekarang ini krisis terbesar adalah krisis akhlak. Oleh karena itu, ada benarnya pendapat seorang pengusaha terkenal dari Jepang yang mengatakan bahwa jikalau seseorang ingin memimpin perusahaan dengan baik, maka sebetulnya skill atau keahlian itu cukup 10% saja, yang 90% adalah akhlak. Karena akhlak yang baik, orang yang cerdas pun akan bergabung denganya. Mereka merasa aman, merasa tersejahterakan lahir batinnya. Akibatnya, berkumpulah para ahli. Bila mereka diberikan motivasi dengan akhlak yang baik maka jadilah sebuah prestasi yang besar. Oleh karena itu sebenarnya kesuksesan itu adalah milik orang yang berakhlak mulia.
Sebuah ilustrasi, suatu saat sedang terjadi dialog antara suami dan isteri. Sang isteri menginginkan anaknya menjadi bintang kelas, akan tetapi sang suami mengatakan bahwa bintang kelas itu bukan alat ukur kesuksesan anak sekolah. Menjadi bintang kelas itu tidak harus, tidak wajib. Yang wajib bagi anak itu adalah memiliki akhlak yang mulia. Apalah artinya ia menjadi bintang kelas apabila kemudian ia jadi terbelenggu oleh keinginan dipuji teman-temannya. Jadi dengki terhadap orang-orang yang pandai dikelasnya, atau menjadi takabbur karena kepandaiannya itu. Apa artinya bintang kelas seperti ini? Lebih baik lagi jika kita bangun mental anak kita lebih bagus, matang pada tiap tahapannya. Kalaupun suatu saat ia ditakdirkan menjadi bintang kelas, maka itu adalah buah dari pemikirannya. Sementara itu ia pun sudah siap denga mentalnya: tidak dengki, tidak iri, tidak jadi sombong. Nilai ini tentunya jadi lebih bagus daripada nilai menjadi bintang kelasnya. Apalah artinya kita lulus terbaik jika kemudian menjadi jalan ujub takabbur. Lulus itu hanya nilai,nilai, nilai....
Inilah yang sepatutnya menjadi bahan pemikiran kita. Apakah kita berakhlak benar atau tidak? Apakah kita sudah mengajarkan kepada keluarga atau lingkungan kita ? Bagaimana cara melihatnya? lihat kalau kita mendapati masalah. Bagaimana respon spontan kita? Bagaimana struktur kata-kata kita, raut wajah kita? Apakah kita cukup temperamental? Apakah kata-kata kita keji, menyakiti, arogan? Apakah anak-anak kita tegur bila mereka belum shalat ? Itulah diri kita. Kesuksesan dan kegagalan itu bergantung pada hal semacam ini. Bergantung apa yang kita lakukan.

BEDA  ORANG MUKMIM DENGAN ORANG MUNAFIK
"Seorang mukmin senantiasa disibukan dengan bertafakur, merenung, mengambil pelajaran dari aneka kejadian apapun di muka bumi ini, sementara orang munafik disibukan dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.
Seorang mukim berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali hanya kepada Allah, sementara orang munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap kepada Allah SWT.
Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun kecuali takut hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa apapun yang mengancam dia ada dalam genggaman Allah, di lain pihak orang munafik justru takut kepada siapa saja kecuali takut kepada Allah, naudzhubilah.
Seorang mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara seorang munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya.
Seorang mukmin menangis karena malunya kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan, sementara seorang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.
Seorang mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri bermunajat kepada Allah, sementara seorang munafik senang berkumpul dengan bersukaria bercampur baur dengan khalayak yang tidak ingat kepada Allah.
Seorang mukmin ketika menanam merasa takut jikalau merusak, sedangkan seorang munafik mencabuti seraya mengharapkan panen.
Seorang mukmin memerintah dan melarang sebagai siasat dan cara sehingga berhasil memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah upaya untuk memperbaiki sementara seorang munafik memerintah dan melarang demi meraih jabatan dan kedudukan sehingga dia malah merusak, naudzhubillah".

Imam Hatim Al Ashom,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar