BERJALAN DENGAN AHLAK MULIA
Setiap nafas yang terhirup, setiap kedipan mata,
setiap degupan jantung yang memompakan darah adalah perjalanan, yang harus kita
warnai. Warna jalan ini tentunya harus indah dan bermakna. Bermakna sesuai
dengan tuntunan agama. Seperti yang di contohkan oleh Rasulullah SAW. baik saat
berjalan dengan manusia ataupun saat ingin dekat dengan Sang Pencipta, Allah
SWT. Tuntunan yang dibawa Rasulullah SAW
ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini dinyatakan sendiri
oleh beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabatnya, "Mengapa engkau
diutus ke dunia ini ya Rasul?". Rasul menjawab, "Innama buitsu
liutamimma makarimal akhlak" "Sesungguhnya aku diutus ke dunia
hanyalah untuk menyempurnakan akhlak".
Menurut Imam Al Ghazali, akhlak itu adalah respon spontan terhadap
suatu kejadian. Pada saat diam, tidak akan tampak bagaimana akhlak seseorang.
Akan tetapi bila ditimpa sesuatu yang menyenangkan ataupun sebaliknya, kemudian
respon spontannya adalah hal yang baik, berarti dia memiliki ahlak yang mulia
Sebaliknya bila sandalnya hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar
bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah yang keluar dari
mulutnya, maka respon spontan itu
menunjukkan keburukan akhlaknya.
Contoh lain jika seseorang
bertemu dengan orang yang meminta sumbangan lalu berfikir keras diberi atau
jangan, bila dikasih seribu, malu karena namanyaa ditulis, kalau diberi sepuluh
ribu nanti uangnya habis. Terus... berfikir keras, walaupun akhirnya memberi
sebetulnya bukan akhlak dermawan yang muncul.
Sekarang ini krisis terbesar
adalah krisis akhlak. Oleh karena itu, ada benarnya pendapat seorang pengusaha
terkenal dari Jepang yang mengatakan bahwa jikalau seseorang ingin memimpin
perusahaan dengan baik, maka sebetulnya skill atau keahlian itu cukup
10% saja, yang 90% adalah akhlak. Karena akhlak yang baik, orang yang cerdas
pun akan bergabung denganya. Mereka merasa aman, merasa tersejahterakan lahir
batinnya. Akibatnya, berkumpulah para ahli. Bila mereka diberikan motivasi
dengan akhlak yang baik maka jadilah sebuah prestasi yang besar. Oleh karena
itu sebenarnya kesuksesan itu adalah milik orang yang berakhlak mulia.
Sebuah ilustrasi, suatu saat
sedang terjadi dialog antara suami dan isteri. Sang isteri menginginkan anaknya
menjadi bintang kelas, akan tetapi sang suami mengatakan bahwa bintang kelas
itu bukan alat ukur kesuksesan anak sekolah. Menjadi bintang kelas itu tidak
harus, tidak wajib. Yang wajib bagi anak itu adalah memiliki akhlak yang mulia.
Apalah artinya ia menjadi bintang kelas apabila kemudian ia jadi terbelenggu
oleh keinginan dipuji teman-temannya. Jadi dengki terhadap orang-orang yang
pandai dikelasnya, atau menjadi takabbur karena kepandaiannya itu. Apa artinya
bintang kelas seperti ini? Lebih baik lagi jika kita bangun mental anak kita
lebih bagus, matang pada tiap tahapannya. Kalaupun suatu saat ia ditakdirkan
menjadi bintang kelas, maka itu adalah buah dari pemikirannya. Sementara itu ia
pun sudah siap denga mentalnya: tidak dengki, tidak iri, tidak jadi sombong.
Nilai ini tentunya jadi lebih bagus daripada nilai menjadi bintang kelasnya.
Apalah artinya kita lulus terbaik jika kemudian menjadi jalan ujub takabbur.
Lulus itu hanya nilai,nilai, nilai....
Inilah yang sepatutnya menjadi
bahan pemikiran kita. Apakah kita berakhlak benar atau tidak? Apakah kita sudah
mengajarkan kepada keluarga atau lingkungan kita ? Bagaimana cara melihatnya?
lihat kalau kita mendapati masalah. Bagaimana respon spontan kita? Bagaimana
struktur kata-kata kita, raut wajah kita? Apakah kita cukup temperamental?
Apakah kata-kata kita keji, menyakiti, arogan? Apakah anak-anak kita tegur bila
mereka belum shalat ? Itulah diri kita. Kesuksesan dan kegagalan itu bergantung
pada hal semacam ini. Bergantung apa yang kita lakukan.
BEDA ORANG MUKMIM DENGAN ORANG
MUNAFIK
"Seorang
mukmin senantiasa disibukan dengan bertafakur, merenung, mengambil pelajaran
dari aneka kejadian apapun di muka bumi ini, sementara orang munafik disibukan
dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.
Seorang
mukim berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali hanya kepada
Allah, sementara orang munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap
kepada Allah SWT.
Seorang
mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun kecuali
takut hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa apapun yang mengancam dia ada
dalam genggaman Allah, di lain pihak orang munafik justru takut kepada siapa
saja kecuali takut kepada Allah, naudzhubilah.
Seorang
mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara seorang
munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya.
Seorang
mukmin menangis karena malunya kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan,
sementara seorang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.
Seorang
mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri bermunajat kepada Allah, sementara
seorang munafik senang berkumpul dengan bersukaria bercampur baur dengan
khalayak yang tidak ingat kepada Allah.
Seorang
mukmin ketika menanam merasa takut jikalau merusak, sedangkan seorang munafik
mencabuti seraya mengharapkan panen.
Seorang
mukmin memerintah dan melarang sebagai siasat dan cara sehingga berhasil
memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah upaya untuk memperbaiki
sementara seorang munafik memerintah dan melarang demi meraih jabatan dan
kedudukan sehingga dia malah merusak, naudzhubillah".
Imam Hatim Al Ashom,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar