BERJALAN DENGAN AHLAK MULIA
( oleh : Ir. H. Hikmat Sobari )
Seorang siswa berjalan masuk ke gerbang sekolah, dengan tersenyum dia menyapa teman yang dijumpainya. Saat berjumpa guru disalami sambil mencium tangannya, tak lupa mengucapkan salam. Bajunya dimasukkan ke dalam celana, rapi walaupun tidak baru.
Temannya banyak, karena dia senang menolong dan perhatian terhadap mereka, tidak banyak cakap, tapi banyak berbuat, tidak suka menggosip apalagi memfitnah, tutur katanya diperhatikan, agar tidak menyakiti perasaan orang.
Di kelas ia ditunjuk menjadi ketua kelas, karena temannya yakin ia dapat mengayomi, dan dapat menjadikan kelasnya nyaman. Tampak kelasnya bersih karena ia selalu mengajak dan mengingatkan pada temannya agar piket. Bila ada teman sakit, ia segera mengambil inisiatif mengajak temannya untuk menjenguk yang sakit. Bila temannya ada yang malas dan suka membolos, didekati olehnya, dia berusaha untuk menjadi teman curhat, agar bisa membantu memecahkan masalah temannya.
Dia juga sering diminta menjadi asisten, oleh gurunya, untuk menerangkan mata pelajaran yag agak sulit, karena biasanya murid lebih berani bertanya pada temannya dari pada bertanya dengan gurunya. Dilaluinya harinya dengan semangat dan ahlak yang baik, dia percaya memberikan yang terbaik untuk sesama akan berdampak baik pula untuk dirinya.
Bila azan berkumandang, dengan cepat dia pergi ke Mushalah, berwudhu, berjamaah dalam shalat, yang dalam sujudnya terdengar bisikan lembut zikir dan permohonan doa pada Sang pencipta. Dia memahami bahwa kehidupannya di dunia adalah sementara, dan dia akan pulng ke “kampung akhirat”
Indahnya ahlak dan iman, kita semua pasti ingin menggapainya.
Secara fitrah dalam diri seseorang mempunyai naluri berbuat baik, senang akan hal-hal yang baik, andaipun ia berbuat jahat lingkunganlah yang banyak berpengaruh. Hal yang baik inilah yang perlu dikembangkan setiap saat dengan senantiasa memupuk kebiasaan-kebiasaan baik dengan standar agama. Karena bila standarnya etika umum, sfatnya relatif hal yang dulunya tabu, saat ini mungkin menjadi hal yang biasa, seperti dulu orang berpelukan lawan jenis hal yang tabu, tapi saat ini karena pengaruh TV dan globalisasi menjadi hal yag biasa.
Cara memupuk kebiasaan baik inilah yang terus perlu kita tumbuhkan, yang diantaraya adalah dengan ; a) ‘ Menjaga pergaulan’ seperti diuraikan di atas, lingkungan berpengaruh besar terhadap prilaku kita, seperti dalam ungkapan bila kita bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita akan terbawa wangi, namun bila bergaul dengan pandai besi, baju kitapun akan berbau besi atau malah terciprat bara besinya. Bila kita membiarkan diri bergaul dengan lingkungan atau teman yang jahat, walaupun awal mulanya kita baik, satu saat kita akan terbawa oleh mereka, Salah satu contohnya adalah merokok. Sebagian besar remaja merokok karena lingkungan teman, walaupun mereka tahu di dalam rokok ada racunnya, mereka tetap mengisapnya agar tetap diterima oleh teman-temannya b). Senantiasa mengingatkan dirinya bahwa bila kita berbuat baik saat ini kedepan kita akan mendapatkan manfaat dari hal tersebut. Sudah sunatullah bila kita menanam biji jagung yang tumbuh adakah jagung, demikian pula kebaikan, tanam kebaikan saat ini juga, karena besok kita memerlukan hasilnya. c). mempelajari sejarah para nabi, karena dari mereka kita dapat mencontoh standar ahlak, pergaulan, dan tingkah laku yang benar.
( oleh : Ir. H. Hikmat Sobari )
Seorang siswa berjalan masuk ke gerbang sekolah, dengan tersenyum dia menyapa teman yang dijumpainya. Saat berjumpa guru disalami sambil mencium tangannya, tak lupa mengucapkan salam. Bajunya dimasukkan ke dalam celana, rapi walaupun tidak baru.
Temannya banyak, karena dia senang menolong dan perhatian terhadap mereka, tidak banyak cakap, tapi banyak berbuat, tidak suka menggosip apalagi memfitnah, tutur katanya diperhatikan, agar tidak menyakiti perasaan orang.
Di kelas ia ditunjuk menjadi ketua kelas, karena temannya yakin ia dapat mengayomi, dan dapat menjadikan kelasnya nyaman. Tampak kelasnya bersih karena ia selalu mengajak dan mengingatkan pada temannya agar piket. Bila ada teman sakit, ia segera mengambil inisiatif mengajak temannya untuk menjenguk yang sakit. Bila temannya ada yang malas dan suka membolos, didekati olehnya, dia berusaha untuk menjadi teman curhat, agar bisa membantu memecahkan masalah temannya.
Dia juga sering diminta menjadi asisten, oleh gurunya, untuk menerangkan mata pelajaran yag agak sulit, karena biasanya murid lebih berani bertanya pada temannya dari pada bertanya dengan gurunya. Dilaluinya harinya dengan semangat dan ahlak yang baik, dia percaya memberikan yang terbaik untuk sesama akan berdampak baik pula untuk dirinya.
Bila azan berkumandang, dengan cepat dia pergi ke Mushalah, berwudhu, berjamaah dalam shalat, yang dalam sujudnya terdengar bisikan lembut zikir dan permohonan doa pada Sang pencipta. Dia memahami bahwa kehidupannya di dunia adalah sementara, dan dia akan pulng ke “kampung akhirat”
Indahnya ahlak dan iman, kita semua pasti ingin menggapainya.
Secara fitrah dalam diri seseorang mempunyai naluri berbuat baik, senang akan hal-hal yang baik, andaipun ia berbuat jahat lingkunganlah yang banyak berpengaruh. Hal yang baik inilah yang perlu dikembangkan setiap saat dengan senantiasa memupuk kebiasaan-kebiasaan baik dengan standar agama. Karena bila standarnya etika umum, sfatnya relatif hal yang dulunya tabu, saat ini mungkin menjadi hal yang biasa, seperti dulu orang berpelukan lawan jenis hal yang tabu, tapi saat ini karena pengaruh TV dan globalisasi menjadi hal yag biasa.
Cara memupuk kebiasaan baik inilah yang terus perlu kita tumbuhkan, yang diantaraya adalah dengan ; a) ‘ Menjaga pergaulan’ seperti diuraikan di atas, lingkungan berpengaruh besar terhadap prilaku kita, seperti dalam ungkapan bila kita bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita akan terbawa wangi, namun bila bergaul dengan pandai besi, baju kitapun akan berbau besi atau malah terciprat bara besinya. Bila kita membiarkan diri bergaul dengan lingkungan atau teman yang jahat, walaupun awal mulanya kita baik, satu saat kita akan terbawa oleh mereka, Salah satu contohnya adalah merokok. Sebagian besar remaja merokok karena lingkungan teman, walaupun mereka tahu di dalam rokok ada racunnya, mereka tetap mengisapnya agar tetap diterima oleh teman-temannya b). Senantiasa mengingatkan dirinya bahwa bila kita berbuat baik saat ini kedepan kita akan mendapatkan manfaat dari hal tersebut. Sudah sunatullah bila kita menanam biji jagung yang tumbuh adakah jagung, demikian pula kebaikan, tanam kebaikan saat ini juga, karena besok kita memerlukan hasilnya. c). mempelajari sejarah para nabi, karena dari mereka kita dapat mencontoh standar ahlak, pergaulan, dan tingkah laku yang benar.